GORESANMERAH.COM | KOTA LANGSA – Sebuah mobil dinas milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Langsa mogok di tengah jalan dan menjadi tontonan publik. Peristiwa ini bukan sekadar insiden teknis biasa, melainkan memantik sorotan serius terhadap tata kelola aset pemerintah yang dibiayai dari uang rakyat.
Kendaraan operasional yang seharusnya menunjang pelayanan justru terlihat tak berdaya di jalan raya. Kondisi ini memunculkan kesan kuat bahwa anggaran perawatan armada dinas diduga tidak berjalan optimal, atau bahkan terkesan diabaikan.
Warga menilai kejadian ini sebagai potret nyata lemahnya pengawasan terhadap aset daerah. “Kalau mobil dinas saja mogok di jalan, bagaimana mau memberikan pelayanan maksimal ke masyarakat?” ujar salah seorang pengguna jalan dengan nada kecewa pada, Rabu (23/6/2026).

Insiden tersebut juga menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kendaraan dinas benar-benar dirawat secara berkala? Ataukah hanya digunakan tanpa kontrol yang jelas hingga akhirnya rusak di tengah jalan?
Lebih jauh, publik mulai mempertanyakan transparansi DLH Kota Langsa terkait kondisi armada mereka. Mulai dari usia kendaraan, jadwal servis, hingga besaran anggaran pemeliharaan yang setiap tahun digelontorkan, semuanya kini menjadi perhatian.
Jika kendaraan tersebut sudah tidak layak pakai, maka pembiaran adalah bentuk kelalaian. Namun jika kerusakan terjadi akibat minimnya perawatan, hal ini berpotensi menjadi indikasi lemahnya manajemen internal.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Langsa, Aulia Syahputra, S.STP., M.SP, hingga kini belum memberikan penjelasan resmi terkait insiden tersebut. Sikap diam ini justru memperkuat spekulasi publik dan memperburuk citra institusi.
Masyarakat menegaskan bahwa setiap aset yang dibeli dengan uang rakyat harus dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. Mogoknya kendaraan dinas di jalan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari pihak DLH Kota Langsa. Redaksi menilai, penjelasan terbuka dan langkah konkret sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan kepercayaan masyarakat dapat dipulihkan.(FAHRUL)
