GORESANMERAH.COM |Siwa – Antrean kendaraan yang mengular hingga berhari-hari di Pelabuhan Ferry Siwa–Tobaku kembali memicu keluhan dan kekecewaan para pengguna jasa penyeberangan. Masuknya salah satu kapal ferry ke dok perawatan menyebabkan kapasitas layanan berkurang dan berdampak pada penumpukan kendaraan, khususnya truk angkutan barang.
Para sopir menilai kondisi tersebut bukan lagi persoalan baru. Mereka mempertanyakan kesiapan manajemen ASDP Siwa dalam mengantisipasi situasi yang berulang setiap kali jumlah armada yang beroperasi berkurang.
Salah seorang sopir truk yang enggan disebutkan namanya mengaku telah menunggu lebih dari satu minggu di area pelabuhan.
“Saya sudah seminggu menginap di pelabuhan menunggu giliran naik ferry. Uang makan sudah hampir habis. Kalau hari ini belum juga berangkat, saya tidak tahu lagi harus mencari biaya makan dari mana,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan sejumlah sopir lainnya yang mengaku mengalami kerugian akibat keterlambatan distribusi barang, meningkatnya biaya operasional, hingga hilangnya waktu kerja selama terjebak antrean.
Menurut para pengguna jasa, manajemen ASDP seharusnya memiliki skenario darurat yang jelas ketika salah satu kapal tidak beroperasi. Mereka menilai penumpukan kendaraan yang terjadi setiap kali kapal masuk dok menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap sistem perencanaan dan mitigasi yang diterapkan.
“Jika kondisi seperti ini terus berulang setiap kali ada kapal yang masuk dok, maka publik wajar mempertanyakan sejauh mana kesiapan manajemen dalam menjamin kelancaran layanan penyeberangan,” ujar salah seorang pengguna jasa.
Para sopir mendesak agar ASDP segera mengambil langkah konkret, seperti penambahan armada sementara, pengoperasian kapal pengganti, penyesuaian jadwal pelayaran, atau kebijakan lain yang mampu mengurangi beban antrean kendaraan.
Mereka juga meminta pihak berwenang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan penyeberangan di lintasan Siwa–Tobaku. Menurut mereka, persoalan antrean panjang yang berulang tidak boleh dianggap sebagai kondisi biasa, karena berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat dan kelancaran distribusi logistik antarwilayah.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar penjelasan, tetapi solusi nyata. Ketika sopir harus bertahan hingga sepekan di pelabuhan hanya untuk menunggu giliran menyeberang, maka ada persoalan pelayanan yang perlu segera dibenahi,” tegas salah seorang sopir.
Hingga berita ini ditulis, para pengguna jasa masih berharap adanya langkah cepat dari pihak ASDP untuk mengurai antrean kendaraan dan mencegah kondisi serupa kembali terjadi di masa mendatang(**)/red
