GORESANMERAH.COM |MAKASSAR – Rencana pembongkaran atau penataan kawasan kuliner Sarabba di Jalan Sungai Cerekang menuai tanggapan dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Wilayah Sulawesi Selatan, Erwin Zainuddin yang akrab disapa Jordan.
Erwin yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Makassar selama tiga periode menyampaikan pandangannya terkait kebijakan Pemerintah Kota Makassar tersebut.
Menurutnya, niat baik pemerintah dalam melakukan penataan kota patut diapresiasi, namun perlu pertimbangan khusus terhadap lokasi-lokasi yang memiliki nilai historis, sosial, dan budaya bagi masyarakat.
“Saya meyakini Wali Kota memiliki tujuan yang baik dalam menata kota. Tetapi untuk kawasan Sarabba Sungai Cerekang, perlu kajian mendalam karena tempat ini bukan sekadar lokasi berjualan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kawasan tersebut selama ini menjadi ruang ekonomi rakyat kecil.
Tidak hanya pedagang sarabba, tetapi juga penyanyi jalanan dan juru parkir yang menggantungkan penghasilan di sana.
Lebih dari itu, menurutnya,
Sarabba Sungai Cerekang telah berkembang menjadi ikon kuliner Kota Makassar.
Sarabba, minuman tradisional khas Makassar yang disajikan hangat dengan campuran jahe dan telur, telah lama menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun warga lokal. Kawasan ini kerap dijadikan tempat berkumpul yang nyaman dan aman, ditemani sajian gorengan serta hiburan musik dari kelompok penyanyi jalanan.
“Ketika orang berkunjung ke Makassar, salah satu tujuan kuliner yang dicari adalah Sarabba Sungai Cerekang. Bahkan warga lokal pun menjadikannya sebagai ruang pertemuan yang santai. Ini sudah menjadi bagian dari identitas kota,” tambahnya.
Menurut Erwin, menghilangkan sebuah ikon kota berpotensi menurunkan nilai daya tarik pariwisata. Ia membandingkan dengan kawasan khas di Yogyakarta seperti Jalan Malioboro, yang tetap dipertahankan karena nilai budaya dan historisnya, meskipun dilakukan penataan agar lebih tertib dan nyaman.
Ia juga menilai bahwa Jalan Sungai Cerekang bukanlah jalan protokol yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi. Selama ini, menurutnya, kawasan tersebut relatif aman, tidak menimbulkan kemacetan berarti, dan cukup terjaga kebersihannya.
Justru, kata dia, persoalan yang lebih mencolok di sekitar kawasan tersebut adalah titik penumpukan sampah di area gerbang ruko Marga Mas, wilayah Kelurahan Gaddong, yang dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Erwin berharap Pemerintah Kota Makassar mempertimbangkan opsi penataan yang lebih humanis dan estetis, tanpa harus menghilangkan aktivitas kuliner yang telah mengakar. “Mungkin cukup ditata lebih rapi dan indah, sehingga tidak mengganggu ketertiban umum dan justru menambah nilai ikonnya,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa kawasan tersebut selama ini tidak hanya dikunjungi masyarakat umum, tetapi juga berbagai tokoh nasional, mulai dari anggota DPR, menteri, pimpinan partai politik, hingga kalangan artis yang pernah menikmati sarabba di lokasi tersebut.
Sebagai bagian dari masyarakat dan insan pers, Erwin menyampaikan harapannya agar kebijakan penataan kota tetap memperhatikan aspek ekonomi kerakyatan, budaya lokal, dan identitas daerah.
“Ini bukan soal menolak penataan, tetapi bagaimana kebijakan itu tetap menjaga nilai kultur dan ikon kota yang sudah hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.(SS)
